Tafsir Sumpah Pemuda

Tafsir Sumpah Pemuda

Oleh: Irpan Ilmi

———————————————

Berdasar pada kamus besar bahasa Indonesia, sumpah adalah pernyataan yang diucapkan secara resmi dengan bersaksi kepada Tuhan atau kepada sesuatu yang dianggap suci (untuk menguatkan kebenaran dan kesungguhannya dsb.), pernyataan disertai tekad melakukan sesuatu untuk menguatkan kebenarannya atau berani menderita sesuatu kalau pernyataan itu tidak benar, janji atau ikrar yang teguh (akan menunaikan sesuatu). Adapun pemuda adalah orang yang masih muda atau merasa muda jiwa atau raganya.

28 Oktober 1928 menjadi tonggak sejarah lahirnya sumpah pemuda, dengan ikrar:

  1. Kami putra dan putri Indonesia, mengaku bertumpah darah yang satu, tanah air Indonesia.
  2. Kami putra dan putri Indonesia, mengaku berbangsa yang satu, bangsa Indonesia.
  3. Kami putra dan putri Indonesia, menjunjung bahasa persatuan, bahasa Indonesia.

Meluangkan waktu membaca sejarah Indonesia, merupakan satu keharusan. Demikian sumpah pemuda mengukuhkan diri sebagai tonggak sejarah lahirnya bangsa Indonesia. Membaca lebih jauh lagi sebelum sumpah pemuda, kita akan menemukan pergerakan Budi Utomo (1908), ia menciptakan partikular  sadar diri, bahwa ia dan organisator lainnya berkebangsaan Indonesia.

Seperti sebuah struktur, dari budi Utomo ke Sumpah Pemuda dan bertajuk pada pergerakan bangsa Indonesia tahun 1954, tepat tanggal 17 Agustus Bangsa Indonesia mengukuhkan dirinya sebagai bangsa Merdeka.

Lantas selesaikah tugas pemuda-pemudi Indonesia dengan merdekanya Negara ini? terjalankanya sumpah pemuda, dan setiap tahun sumpah pemuda dan kemerdekaan diperingati, apa esensi dari semua itu?

Menyoroti pemuda; dari usia ataupun dari semangat pemuda, pantas mereka mempunyai progres jelas menentukan nasib diri dan bangsanya. Walaubagaimanapun kehidupan  akan terus berlangsung, dan nasib bangsa selanjutnya ada ditangan pemuda. Demikian pemuda harus menjadi agent dan direct of change, memposisikan diri sebagai kaum intelektual dan intelegensi.

Sudah tak ada lagi perang senjata, mengorbankan nyawa untuk sangkakala merah putih dengan bercucuran darah. Bangsa Indonesia yang sekarang adalah hadiah dari pejuang tempo dulu. Wajib seluruh warga Indonesia mendapatkan pendidikan gratis selama 9 tahun, seperti yang dicanangkan pemerintah. Selesai sudah tugas mereka, seperti yang kita rasakan. Meski terjadi problema disana-sini, itu merupakan pengecualian bagi orang-orang serakah.

Tugas seorang terdidik adalah mendidik. Keduanya merupakan kewajiban bagi manusia; berpendidikan dan mendidik.” Tujuan besar pendidikan bukanlah pengetahuan, melainkan tindakan” ujar Herbert Spencer. Mengingat hukum gravitasi “Apel yang berada di atas akan jatuh kebawah” dan menghasilkan benih baru,  setelah itu tumbuh.

Tidak meski ruangan secara formal untuk melakukan proses belajar mengajar. Banyak ruang lain yang dapat mudah dimanfaatkan untuk melakukan hal tersebut. Menyerukan nasionalisme tidak harus di Istana Negara, menyampaikan pesan agama tidak harus dimesjid atau di Gereja, begitu pun belajar dan mengajar. Yang terpenting adalah kreatif dan keaktifan para pemuda tidak berhenti.

Fenomena anjloknya rupiah telah dirasakan oleh semua kalangan. Korupsi telah menjadi tontonan dan tuntunan yang tak pernah terputus. Nasib petani yang selalu tertindas karena selalu merugi panen.

Bukan menyalahkan pemuda, namun pemuda harus berperan dalam mengatasi semua itu. Bukan hanya memperingati hari sumpah pemuda, namun coba diilhami dan tiru semangat sumpah pemuda. Seyogya pemuda, memiliki semangat juang yang tingga. Maka bukan hal yang meng-gengsi-kan jika pemuda menjadi pelaku ekonomi (berbisnis) dalam lingkup ekonomi micro terlebih ekonomi makro.

Sekecil apapun perubahan demi kebaikan, akan berpengaruh pada dirinya, dan pada negara Indonesia. Kuncinya hanya memulai, mulai dari yang terkecil (mikro) kembangkan supaya jangkauannya lebih luas (makro) dengan bekerjasama. Akan lebih sulit untuk melakukan perubahan sendirian sendirian, maka bertemanlah (berjejaringlah) untuk memudahkannya.

Membaca sejarah Budi Utomo dengan pergerakannya yang partikular, dan sumpah pemuda lahir menjadi pemersatu partikel, kemudian diikat oleh kemerdekaan Republik Indonesia, patutlah ditiru. Pemuda harus berjejrang, membangun pertemanan, bersinergi tanpa membedakan A, B, C, dan D. Sepertihalnya filosofi Sapu Lidi “Satu lidi takan membersihkan sampah, tapi seratus lidi yang diikat akan mudah membersihkan sampah”. Mengatasi ketimpangan di negeri ini akan susah jika dilakukan perorangan, maka semua kalangan harus ikut serta berpartisipasi mengatasinya.

Mengutip pepatah Ridwan Kamil “Kelemahan orang kreatif adalah susah bersinergi dengan orang lain”. Entah faktor apa yang menyebabkan ini, analisa penulis untuk sementara adalah faktor ego. Egoisme kadang menghambat untuk bersosial, menganggap orang lain tidak sejalan dengan pikirannya, atau menganggap orang lain tidak bisa seperti dia. Bayangkan, dulu, jika sumpah pemuda tidak memersatukan bangsa Indonesia, bisa jadi egoisme antar suku akan berlangsung, dan tidak menutup kemungkinan perang antar saudara karena profokasi penjajah pada suku-suku di Indonesia.

Manfaatkan ruang yang ada untuk melakukan perubahan; media tradisional, media modern, warung kopi, guna menyerukan nasionalisme, pendidikan, pertanian, perekonomian, dll..

Tanah, air dan udara adalah hak rakyat sepenuhnya. Dalam pembukaan UUD 1945 terdapat kata “Kerakyatan bagi seluruh rakyat Indonesia”. Tentu objek kesejahteraan disini bukan manusia saja, kesejahteraan tumbuhan dan hewan juga harus diperhatikan. Hidup saling menguntungkan satu sama lain, dikenal dengan bahasa simbiosismutualisme dalam bidang biologi. Andai yang terjadi adalah saling merugikan antara manusia dan tumbuhan pula hewan, maka kejadian selanjutnya adalah putusnya rantai makanan. Dalam hal ini manusia dirugikan oleh dirinya sendiri, “Senjata makan tuan”..

Patutlah mengamati setiap kejadian disekeliling (masyarakat) sedetail mungkin. Dan jadikan semua itu sebagai guru, guru yang sesungguhnya. Guru yang beorintasi pada peradaban lebih baik dan mapan. Bertujuan satu, yaitu menciptakan kaum intelektual dan kaum intelejensi yang peduli, menciptakan sesuatu, berpikir dan mencipta yang baru. Andai pemuda tetep diam, maka ia telah melunturkan semangat kemanusiaan yang sejatinya terus berpikir dan menciptakan perbaikan.

Setelah semua itu terealisasi, maka sumpah pemuda bukan hanya perayaan mengenang masa lalu, melainkan implementasi dulu, sekarang dan rancangan masa depan Indonesia.

Pernyataan-pernyataan diatas adalah sebuah ilham yang harus di ilhami kembali. Karena masih banyak pemuda yang harus bersumpah untuk membangun dan meneruskan, merancang serta mencerahkan masa depan Negeri Indonesia, apapun caranya.

 

____

27 September 2013

More
articles