Wisuda Ke-2 STITNU Pangandaran “Building Islamic Character”
Puncak dari belajar adalah ilmu pengetahuan. Wujud dari ilmu pengetahuan adalah karakter yang baik. Mahasiswa, alumni STITNU harus mampu melaksanakan itu semua

Sekolah Tinggi Ilmu Tarbiyah Nahdlatul Ulama (STITNU) Al-Farabi Pangandaran menggelar prosesi sidang senat terbuka wisuda angkatan ke-2 pada hari Rabu 16 Desember 2020. Sebanyak 46 mahasiswa diwisuda di Aula Hotel Krisna 2, Pantai Pangandaran, Jawa Barat.

Hadir pada acara wisuda ke-2 STITNU Al Farabi Pangandaran H. Jeje Wiradinata selaku Bupati Pangandaran, Sekretaris Kopertais (Koordinatorat Perguruan Tinggi Keagamaan Islam Swasta) Wilayah 2 Jawa Barat, ikatan alumni, SKPD Kabupaten Pangandaran, pengurus pesantren dan yayasan pembina perguruan tinggi serang orang tua/wali wisudawan.

Tema Building Islamic Character menjadi sorotan utama dalam wisuda ke-2 Tahun 2021 saat pandemi covid 19. Asep Saepurrohman, Drs. M.M. memaparkan alasan pemilihan tema tersebut.”STITNU Al Farabi Pangandaran ini adalah universitas pendidikan islam. sementara, Covid-19, kalau saya lilhat, selain merusak sistem kesehatan juga merusak akhlak manusia. Hal ini dikarenakan pendidikan anak-anak tidak tuntas dilakukan ornag tua yang sibuk bekerja, sementara sekolah menggunakan pola pembelajaran jarak jauh, dampaknya adalah krisis pengetahuan dan krisis akhlak.”

Ketua STITNU Al Farabi mengemukakan konsep pembangunan karakter guna menjawab krisis akhlak. “Mahasiswa atau alumni harus mempunyai sikap Rahmatan Lil Alamin (Menyayangi Semesta) sebagai wujud dari bahwa pendidikan itu untuk membangun kehidupan berkelanjutan. Akhlak menjadi hal penting, bukan hanya yang berhubungan dengan manusia, bahkan dengan semua yang melata di bumi ini. Selanjutnya adalah kehendak unuk mencipta, membuat sesuatu yang bermanfaat bagi orang lain. Perlu diingat, tugas manusia adalah belajar. Puncak dari belajar adalah ilmu pengetahuan. Wujud dari ilmu pengetahuan adalah karakter yang baik. Sperti pepatah sunda, 4 hal menjadi karakter hidup yaitu, merasakan (surti) belajar memahami (harti), belajar melakukan (bukti),  belajar hidup bersama (bakti). Mahasiswa dan alumni STITNU harus mampu melaksanakan itu semua.”

More
articles