AKHLAK MUSLIM DI ERA MEDSOS

head banner stit nu copy

Sesungguhnya telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu (yaitu) bagi orang yang mengharap (rahmat) Allah dan (kedatangan) hari kiamat dan dia banyak menyebut Allah”. (QS Al-Ahzab: 21).

Salah satu pondasi terpeting dari Islam adalah akhlak. Muslim tanpa akhlak menjadi kurang dan tidak indah. Akhlak tidak akan cukup jika tidak ada ibadah ritual. Dalam kehidupan kita, ada seorang muslim yang indah dan mengindahkan akhlaknya, ada juga yang tauhidnya indah namun tidak menginterpretasikan keindahan akhlak.

Saat kita terjebak dalam algoritma informasi sebatas yang kita sukai, bisa jadi membuat kita menjadi manusia yang fanatik. Sebab tidak mau membuka cakrawala informasi. Ragam informasi yang terkonfirmasi justru akan memperkaya kita.

Islam mendorong kita mengenal heterogenitas masyarakat. Allah menciptakan makhluk yang beragam/ multikultural. Tujuannya untuk saling mengenal dan belajar serta memuliakan.

Digitallisasi kehidupan, dari sisi lain, menjebak pikiran dan jiwa yang hanya stagnan mencitai yang ia suka saja. Dalam bahasa internet disebut “follow”. Seringkali kita hanya mengikuti pandangan yang satu alur dengan kita. Kalau bisa kita juga mem-follow pandangan yang bersebrangan dengan kita atau tidak sama dengan kita.

Nyatanya, algoritma kehidupan membaca kita dan memperdalam apa yang kita baca. Algoritma kehidupan tidaklah berpredikat jahat, jika kita bisa mengelolanya dengan baik. Motivasi dalam diri kita yang akan memutuskan apakah arus informasi dalam hidup ini akan menjadi algoritma yang memberikan informasi positif atau negatif.

Doktrin dan dogma pada pemutlakan sering mengira bacaan kita itu rasa-rasanya sudah mewakili seluruh realitas. Ini akan jadi repot, karena seolah-olah dunia ini hanya diisi oleh orang dan argumentasi yang itu-itu aja.

Misalnya berbicara Kab. Pangandaran yang selalu hanya diidentikan dengan pantai. Nyatanya Pangandaran tidak hanya sebatas pantai. Pangandaran juga membicarakan Curug, sungai, perkebunan, bahkan pertanian dan lembah. Pangandaran juga tidak hanya sebatas Pananjung, Langkaplancar juga bagian dari kabupaten Pangandaran.

Apakah betul, pantai identik dengan kemaksiatan? Apakah di pantai tidak ada orang-orang yang berzikir kepada Allah dengan ekspresi yang berbeda?. Apakah betul komunitas agama secara hegemoni, tersucikan dari unsur kemaksiatan? Maksiat itu, apakah sama dengan lokasi?, atau jiwa yang mempunyai hati dimanapun dapat bermaksiat? Apakah betul selevel tokoh agama yang menyampaikan agama dirumahnya tersucikan dari godaan maksiat? Atau apakah betul selevel wanita malam dihatinya tidak ada Allah? lantas kita sering menganggapnya bahwa wanita malam adalah neraka?

Apakah betul ketika angka terbesar mendukung anda, secara nurani itu mendukung anda?. Betulkah mereka mendukung anda secara kerelaan?. Atau karena desakan anda sendiri melalui dinamika kekreatifan anda dengan segala macam cara. Sehinggan pemberitaan meng-GR-kan anda seolah-olah ini murni menurut data?

Status di facebook misalnya, itu adalah bagian dari cerminan akhlak yang akan menjadi magnet pagi pembaca. Ketika Kita menulis status, saat di sukai pembaca, kok seakan-akan kita seneng ini dilevel pertama. Level kedua, notifikasi di scroll untuk mengetahui jumlah like, siapa tahu jumlah like melebihi satu. Level ketiga, di tag ke medsos jenis lain barangkali gelombang likenya makin tinggi. Level keempat, kesel tidak ada yang like dan tidak seperti orang-orang akhirnya ngemis like.

Adapun sebaliknya, level pertama berniat like status orang dengan motivasi sedeng dan apresiasi. Level Kedua, berkomentar dikolomnya dengann perkataan yang sepakat dan setuju. Level ketiga, membantu men – tagkan. Level keempat, meyukai dan menunggu postingan berikunya tanpa bosan dan celaan.

Jika dikategorikan jenis-jenis like; 1. Ada sedekah like, 2. ada juga finah like. 3. Ada dermawan like, 4. dan ada like dua kali sebagi penggembira saja. Berburu disukai orang (like) saat ada orang lain tidak suka maka sering kali darah kita naik (emosi). Terlebih angka ketersinggungan di medsos sangatlah tinggi.

Interaksi yang tidak bertemu langsung memunculkan etika baru, sulitnya elektorink-tabayun. Ketika teks ditulis, setiap kita hanya mampu dilevel menduga-duga. Padahal bisa jadi kondisi aslinya dalam keadaan tidak seriuas, dan tidak seilmiah kehidupannya. Hanya dengan modal copy paste. Gelombang komentar hadir dengan beragam respon.

Terkadang kita merasa ketusuk. Padahal maksud tulisan tersebut tidak betul-betul diketahui arahnya. Bahkan terkesan seperti membicarakan kita, padahal ia hanya ngarang status. Bisa juga status tersebut dimaksudkan untuk orang lain.

Banyak yang baper akibat komunikasi salah sasar di medsos. Banyak yang tidak suka akibat komunikasi salah sasar dimedsos. Banyak yang sakit hati akibat komunikasi salah sasar dimedsos. Banyak yang prustasi akibat komunikasi salah sasar dimedsos. Banyak yang depresi akibat komunikasi salah sasar dimedsos dll.

Lalu apa solusinya? Ketemu langsung dan tabayunlah!.

AKHLAK BERMEDSOS

Medsos tidak lagi menjadi realitas yang imaginer. Sepertinya dunia maya dan dunia nyata menyatu. Kebanyakan kita hampir tidak sadar dan diseriusi sehingga menjadi sensi atau fanatik. Polarisasi kehidupan nyata pada dunia maya atau sebaliknya bisa jadi jenuh dan menyebalkan sebab pembicaraan di medsos.

Tangtangan untuk seorang Muslim, bagaimana menerjemahkan adab Islam di medsos menjadi akhlak baru di era ini. Akhlak islam itu indah sekali. Dewasa ini seperti ada gep antara akhlak dan ritual. Padahal aklak harus sebanding lurus dengan akhlak. Kalau diibaratkan, seperti bangunan sekarang, arsitekturnya moderen, namun minimalis. Seakan-akan kalau sudah solat, sudah cukup.

Menyetir teknologi adalah tugas  kita  bersama. Kecuali, jika kita seorang yang konsumtif, sekedar penikmat berita tanpa ditakar. Maka, pusaran maya sebetulnya tidaklah berbahaya, namun kebodohan kitalah yang menegelamkan dengan akal-akannya terperangkap pada algoritma medsos.

Akhlak ini penting. Tidakan kriminal, pelecehan dan penginaan di jagad  medsos, dengan kita membalas dengan hal yang sama pada orang yang tidak bersalah dengan sikap lebih keji akan menciptakan gelombang kekejian yang tiada akhir.

Ia tersinggung, dan menyayangkan. Namun tetap ia mengungkapkannya  dengan elegan, bukan marah tanpa kontrol. Memang kita berbeda. Namun kemanusiaan sebelum keagamaan kita adalah manusia. Jangan lantas kamu berkuasa, lalu seperti penuasa dalam jiwa binatang yang buas.

Banyak dari kita berpendapat seakan-akan tidak ada kewajiban untuk saling mengenal. Sangat sektarianism. Kita hanya fokus pada puzzel kelompok kita sendiri. Sehingga, tidak mau berbagi keindahan pada puzzel kelompok yang lain. Inti jahiliyah itu adalah sekterianisme. Maka islam datang untu membuatnya saling mengenal satu sama lain.

Terkota-kotak pada kelompok yang semangat pada pemahaman yang sempit sekali. Bahkan bisa terjebak, perang antar kelompok. Sampai berlama-lama tahun. Dengan perkara sepele, dan tidak mutu. Tengkar percis, masalah sepele. Main tagar, main meme, main kalimat metafoa sampai kalimat mudah terbaca dll.

JANGAN MENUTUP MATA

Nabi Muhammad disebut juga An Nabi Ar Rahmah (Nabi kasih sayang). Nabi Muhammad itu mempunyai kebiasaan yang menarik. Jika menerima tamu, Nabi tipikal manusia yang asyik diajak ngobrol. QS Al Ahzab memberitakan “Jika kalian sowan kerumah Nabi, maka tidak harus ada janji, kapan waktu yang tepat bertemu Nabi. Sama seperti ruang tamunya kiai-kiai, selalu terbuka sepanjang waktu”.

Beda halnya dengan Syaidina Umar R.a. Syaidina Umar R.a adalah orang tipikal yang buat sungkan. Secara kejiwaan karismatik. Jangankan manuisa. Bahkann iblis atau setapun jika bertemu dengan Syaidina Umar R.a ia minggir. Pada Hadits dinyatakan, jika Syaidina Umar R.a umar berjalan. Lalu syetan satu jalan berhadapan akan melewatinya. Maka syetan mencar jalan yang lain.

Nabi Muhammad SAW itu tidak kaku. Suka musik. Suka Humor. Romantisme terhadap istri-istrinya. Ketika menaggapi suatu masalah sangat cool sekali. Tidak mudah marah dan ketersingunggan. Sehingga, terpotret Muslim yang asik.

Tidak difahami memahami Islam menerimanya penuh dengan kebencian. Saling menyalahkan, bahkan memasang muka marah setiap pendapat yang berbeda dll. Yang seakan-akan benci, menyalahkan, marah mempunyai nilai agama, diberikan bungkus agama, sehingga dibuat hipotesis menegasi  pembenaran bahwa Nabi itu begini.

Namun tidak menyimpulkan bahwa Nabi tidak Marah, yang menerima sesuatu yang harusnya beliau marah. Namun, sebagian besarnya Nabi Muhammad orangnya mengasikan. Bahkan jika beliau menerima tamu, maka malu sekali beliau untuk menyuruhnya pulang.

Asbabunnuzul QS Al Ahzab menginformasikan, ‘jika sudah Rasul memberi makan, maka pulanglah”. Maksudnya bukan mengusir, namun lebih bertamu dengan cara tahu diri. Nabi mempunyai privasi, dan juga butuh istirahat. Seperti halnya sowan pada kyai, jika sudah duduk mendengarkan kedalaman pembicaraannya. Bawaannya betah, ingin terus bersama kyai.

CARA MELINDUNGI MINORITAS, OLEH MAYORITAS.

Rumus umumnya, sebetulnya dimanapun anda berada kita sejatinya harus menghormati hukum yang ada. Seperti halnya para bestari mengatakan dimana bumi dipijak, disitulah langit di jungjung. Setiap negara mempunyai peran untuk mencerdaskan kehidupan bangsa. Maka segala bentuk pembodohan dalam betuk apapun, adalah inkonsistusional.

Kedaulatan rakyat, yang dipimpin oleh hidmat adalah point utama. Misalnya dalam wilayah kesadaran bahwa otomatis kita ingkar bahwa nabi tidak mungkin diimaginerkan dengan gambar. Adapun sejarah, syair, puisi bahkan diantaranya nadzom yang terceritrakan barulah sebatas fikiran manuisa semata. Sebab Nabi melampaui semuanya.

Imam al Busiri mengatakan, puncak pengetahuan yang kita bangun bahwa Muhammad adalah manuisa, bukan Tuhan. Maka, jangan dipertuhankan. Namun dibalik itu, karena beliaulah sebaik-baik Manusia dan Sebaik-baik ciptaan Allah.

Maka yang membela Nabi berlebihan, dengan cara menghina, melecehkan, mengutuk, menzolimi, bahkan membunuh penulis kira tidak berdasarkan pengetahuan, tidak berbasis kesadaran ilmu, dan tidak bisa dibenarkan. Apapun itu, membalas dengan cara tidak baik tidaklah dibenarkan.

Maka para penghina, peleceh, pengkutuk, pendzolim akan terpental sendiri pada dirinya sendiri. Keagunagn yang diinterpreasikan pada akhlak terpuji yang istikomah. Menjadikan penghina, peleceh, pengkutuk, pendzolim seperti meludah kelangit, yang alhasil akan jatuh pada dirinya sendiri.

Bisakah Kita tidak bisa mengotori langit yang luas dan indah dengan tinta hitam kita? Bisakah kita mengotori dengan membuang air kencing pada samudra yang luas? Tetulah perbuatan sia-sia. Yang ada keburukan itu akan diserap secara otomatis oleh kebaikan lantas, menjadi kebaikan abadi. Artinya disanjung atau tidak, tidak berkurang keagungan dan Kemuliaan Nabi SAW.

Ketika Agamanya dihina, dilecehkan, dimanfaatkan untuk dilemahkan atas Nama penghinaan atas nama kebebasan berpendapat, penulis sama sekali sangat tidak setuju. Maka, sikap manusia yang tergerak hatinya yang menjungjung nilai Agama penting sekali menyampaikan kritik, pertama kepada pemimpin negara, dan kedua, auto kritik pada diri kita sebagai orang yang beragamasatu jenis.

Jadi jangan hanya seruan boikot atau kutukan, tanpa memperhatikann cara yang tepat menanganinya. Tanpa menyentuh masalah yang krusial yaitu ada kekerasan, penginaan, pelecehan yang dilakukan juga dilakukan oleh oknum orang yang beragama satu jenis yang mentidakibatkan maslah menjadi tiada bertepi.

Pemerintah selandia baru, dibawah perdana mentri perempuannya (Jasdinda arden). Jasdinda arden adalah seorang perempuan yang atheis. Namun cara ia menagani kasuus penembakann sebuah kasus di dalam Masjid, yang menewaskan jamaah Masjid. Itu luar biasa simpatiknya. Membuat orang Islam discuritysasi, tidak diisolasi, tidak dijadikan objek pengawasan.

Perdanamentri New zeland membuat mersa orang islam dilindungi. Tidak diisolasi dan objek pengawasan. Media secara secara adil mempulikasikan isu, namun disisi lain juga memberikan rasa aman pada yang diteror, dan menentang keras hal-hal yang berpotensi terorisme.

Ketika Agamanya dihina, dilecehkan, dimanfaatkan untuk dilemahkan atas Nama penghinaan atas nama kebebasan berpendapat, penulis peranggapan selain kritik itu ditujkan pada yang berbuat dzolim (Out), dan kritik juga berlaku pada ke jiwa kelompok tertentu (in).

Apakah cara membalas itu juga, dibalas kedzoliman yang sama apalagi salah sasar. Sekalipun ada cara yang membuat ia diangga lebih jera lalu kita artikan dengan kata dzolim, menurut para ahli dahulu. Namun sebab zamannya berbeda, maka juga harus ada cara terkait adaptasi solusi sebab zamannya berbeda. Ketika kita membalas dengan metode ini, juga kita sama-sama dikutuk oleh dunia sebab takaran kejamnya bisa jadi melebihi persepsinya. Bahkan mempertebal identitas agama menjadi lebih tidak rahmat (Phobia).

AUTENTISITAS HOLOGRAM

Teknologi digital ibarat pisau bermata dua. Sisi pertama, setiap kita harus sadar akan keterbatasan yang diciptakan didalamnya, namun disisilain jika kita bisa mengelolanya maka manfaatnya begitu besar dan dinamis. Kontrol dan konsistensi bimbingan penjadi yang utama dalam pengendalian diri (Mujahadah Nafs), dalam pengunaannya.

Saat ada dua kelompok bertikai di jagad medsos apapun mereknya, ia tidak sadar sedang memandang dari sudut pandangnya sendiri. Menganggap bahwa sudut pandangnya adalah kebenaran yang menegasi mutlak. Sehingga, satu sama lainya tidak bisa menerima keberadaan eksistensi kelompok yang lain. Jika kita menyadari ilmu islam itu luas, sebetulnya tak perlu bertikai.

Kita bisa belajar dengan yang berbeda, tanpa menyerabut bahkan pindah pada keyakinan kita. Kita pun tidak mesti culas agar orang lain pindah, apalagi memaksa pada yang kita yakini. Sebuanya bisa terjadi imbang, jika seni tolerasi kita tinggi, ditunjang dengan argumentasi yang rasional lagi kuat akarnya.

Tingkat pengetahuan yang tipis, berpotensi menerima segala informasi yang original untuk disalah fahami, atau mentidakibatkan salah faham. Mendahulukan taklid buta, indokrinasi, fanatisme sensi menegasi dirinya bahwa hanya dirinya adalah interpretasi yang terbaik. Selain dia, boleh menjadi yang kedua, ketiga, bahkan rekomendasi untuk tidak dipilih sekalian.

Ego Hegemoni atau ego kelompok, menimbulkan watak yang unik dan membangun nasionalisasi kelopok untuk tidak mau diusik, dan dicamuri kepetingannya. Saat menjadi individu biasa, ia bisa berdampingan, bicaranya tidak sulit difahamai dan sengaja meninggi. Namun, saat dicampuri kepentingan kelompok, menjadi manuisa lain-lain. Seperti mendapat pesanan terselubung, membela kelompok atau dimusuhi kelompok. Sekalipun ada hal yang salah, cepat-cepat dibuat pembenarannya.

Namun jika kita ada waktu sejenak untuk refleksi. Mentafakuri, dan mentadzaburi kehidupan ini. Kenapa kehidupan ada pertikaian, sisilain lenyap oleh isu yang lain. Sedikit-sedikit isu kesedihan, dan sedikit-sedikit isu kegembiraan. Jika saja kita fokus, kita betul-betul menemukan hikmah.

Sebab Allah ini menciptakan semesta alam adalah berpasang-pasangan. Sebab dua pasang, tibul persaingan. Persaingan itu, memunculkan orang-orang yang berfikir. Ada yang berlapang dada, adajuga yang asik menciptkan konflik. Jika ditarik perbedaan itu sebetulnya adalah hikmah hidup.

Allah sedang memainkan perannya, dan berorkestra dengan semesta raya. Dua kubu (pasangan) itu ada satu kelompok, atas monarki. Ada yang betul-betul panggilan jiwa. Ada jiwanya mengalami limitasi, sehingga tidak sepemahaman walau satu kelompok namun tidak membenci.

Ada antagonis, berbulu domba. Ada elit, yang tidak pernah damai, jika tidak memberikan pesan kebencian. Ada yang mencoba, membuat bangunan diluar bangunan sebab gerakannya tidak sehat. Ada yang bimbang, sebab pondasinya kurang kuat lalu muncul perbudakan. Ada yang bergerak menghapus perbudakan. Ada yang jiwanya mantap, mencintai perbedaan tanpa harus melemahkan.

Dari gesekan, manuisa akan berfikir dan berkembang. Ada yang berkiblat pada ego, ada yang mencari autentisitas tuhan. Big Bang dalam konteks sosial dan kesemestaan ini bagian dari skenario Allah. Perdebatan merangsang manuisa menjadi berfikir kritis. Selintas menjengkelkan, namun hikmahnya menjadi diskusi yang menarik. Setiap zaman, Allah turunkan manuisa-manuisa pencerah dan bijak sana berikut dengan pasangannya.

Catatan penulis bagi generasi sekarang harus terus dilatih membaca dengan seni apapun, berkesinambungan, dan seimbang. Dilatih berkalimat pada bermakna, logis dan menginspirasi (educated). kalimat panjang tidak membosankan, mengajak pembaca menjadi teduh dan asyik berpengaruh pada prilkunya. Interpretasikan iqra lebih khusus pada kesemestaan.

Menurut Syekh Abdul Wahab Asyaroni mengatakan, Pengalaman personalnya merefleksi kehidupan. Bahwa, umat Nabi Muhammad selalu sepanjang zaman terbelah menjadi beberapa kelompok diantaranya. Pertama, Ada kelopok yang ekstrim, Kedua ada juga kelopok lentur, dan ketiga ada juga yang mentidaku pertengahan. Setiap manuisa mentidaku dinyalah pertengahan itu. Ada juga yng mentidakui belum pertengahan, namun belajar menuju pertengahan.

Penulis menguraikan tafsiran tersebut salam praktiknya, ada yang mentidaku memudahkan, namun dirasakan betul-betul muda. Ada ada yang mentidaku memudahkan, namun faktanya menulitkan. Ada sulit sebab berfikir, dan ada sulit sebab kemalasan. Ada yang mentidaku menyulitkan, namun sebetulnya memudahkan. Ada yang menyulitkan, dan betul niat untuk mempersulit.

Penulis mempunya pandangan. Apapun cara penyampaiannya kembali pada keputusan orang berpilaku. Namun sikap penulis, penting sekali kita untuk terus belajar memperbaharui fikiran , pengetahuan, dan sikap untuk lebih mensederhanakan. Tanpa disalah fahami, pengabaian atau dibuat main-main. Seiring dengan perkataan nabi, mudahkan jangan dipersulit.

Penulis merasa, Allah menciptakan pandangan yang ketat agar kita bisa belajar agar tidak sembrono dan seenaknya. Bahkan penulis merasa Allah menciptakan pandangan yang longgar, juga bukan berarti tidak hati-hati. Namun keluwesan hatinya tidak memberikan paradigma bahwa agama itu menyulitkan. Gas dan rem, harus faham bagaimana cara mengebalikan dan faham waktunya. Terpenting tidak kebablasan, tahu batas, dan hilang kebijaksanaan berikut kemanusiaannya.

PUBER AGAMA

Penulis sangat apresiasi dengan teks Hijrah, dan yang difahami secara  relatif tetang konteks hijrah di masyarakat yang Majemuk. Penulis tidak interpensi benar salah. Penulis menilai, boleh kita berubah pada perubahan yang baik. Namun jangan menyalahkan atau mencerca yang akan.

Puber Agama artinya, manuisa bahkan lintas usia yang sedang mencari jati diri. Sama-sama tersesat, dan ingin mencari jalan keluar. Ketika asyik menggeluti agama, motivasi spiritualnya melambung selalu ada kecendrungan over dan kebabalasan.

Sepertihalnya anak-anak yang diberi hadiah saat ulang tahun, semisal PS5. saking asyiknya jadi lupa makan. Godaan manuisa yang sedang asyik, identik dengan lupa sesuatu. Namun, dari kelupaan pada sesuatu juga akan siuman (New Normal).

Secara alamiah, ketika manuisa over lalu mengalami kejenuhan reflekstif akan menghentikan kegiatannya dan mencari gerakan baru. Yang over ini ibarat Satu jepretan poto, sekan satu jeprepatan itu mewaki semuanya. Sekan sudah ngaji pada satu ustadz, satu buku, satu diskusi dll. Merasa sudah khatam ngajinya dan sudah pinter.

Namun filosofinya seperti adegan filem. Kita agan belajar keasyikan konflik didalamnya dan berakhir dengan keasikan menunggu serial berikutnya. Jadi jangan bilang jika ada jomblo, berarti ia kutukan. Bisa jadi pernihanya lebih cepat dia dari pada kita. Jangan juga terlalu pesimis, orang lain sudah punya pasangan itu belum tetu bertahan lama. Bahkan kejatuhan atas hubungan berspasangan juga tidak dianggap hina. Bisa jadi, hubungan berikutnya menjadi penguat pengalaman senbelumnya.

Samahalnya dalam teknologi medsos, jika ada setatus di Fb, atau Tweet di Tweeter, atau Poto di Instagram. Yang kita lihat hari ini  bukanlah final dari perjalannan seseorang. Jangan menghakimi orang lain tidak sesuci anda. Tidak sealim anda. Tidak seanda lakukan. Kurang suci dari pada kamu.

Jikapun ia ada orang yang tidak percaya agama dan tuhan, penulis mengira itu bagian dari salah satu adegan dalam filem kehidupan. Bagian dari roll filem. Bisa jadi roll berikutnya kita malah jadi tidak soleh. Maka, penting sekali perhatian terhadap Akhlak.

Akhlak itu yang membuat kita muslim menjadi indah. Menjadi Manuisa yang asik dan mengindahkan. Tidak menyebalkan, dan tidak betah. Asik, enak, keindahan keseimbangan, perdamaian, kemanuisan bahkan kesemestaan terwujud dalam bentuk akhlak.

_____

Oleh: Nisfa Farid Rijal

Blog Attachment

Leave us a Comment